|
|
 |
|
Welcome to our web site!
On this home page we'll introduce our organization and highlight important areas on our site.
Here is an example of a style we may use.
|
 |
PENGAJARAN TABERNAKEL
I.Pengantar Pengajaran Tabernakel I.1.
Terang Baru dalam memahami Perjanjian Lama I.1.1 Terang Baru Banyak kali orang percaya sekarang ini
menganggap kitab-kitab Perjanjian Lama dipandang sebagai kitab sejarah, meskipun ada sebagian isinya yang dapat ditafsirkan
sebagai nubuatan akan hal-hal yang akan terjadi. Seringkali orang percaya bertanya-tanya, apa maksud Allah mengilhami para
penulis untuk menuliskan peristiwa perjalanan hidup manusia sejak Adam, Nuh, Abraham, Ishak, Yakub, sampai akhirnya menjadi
suatu bangsa, yaitu Israel. Yang paling menyedihkan adalah bahkan ada kecenderungan untuk meragukan bahwa isi Alkitab adalah
Firman Tuhan. Khususnya kitab Kejadian, tentang masalah penciptaan manusia. Mereka yang tidak percaya, malah lebih mempercayai
teori manusia tentang evolusi manusia dari pada Firman Tuhan.
Memahami isi kitab-kitab Perjanjian Lama tidak akan mencapai
sasaran, bila kita menafsirkannya secara harfiah semata atau menurut kehendak kita sendiri (2 Petrus 1:20). Kita
harus mengakui lebih dulu, bahwa Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru merupakan satu kesatuan yang berkesinambungan.
Untuk mengerti bagian yang satu harus menggunakan bagian yang lain untuk menjelaskannya. Membandingkan yang rohani dengan
yang rohani, membandingkan ayat dengan ayat. Baik Perjanjian Lama diterangi oleh Perjanjian Baru, maupun sebaliknya.
Kita
dapat belajar dari surat-surat rasul Paulus, bahwa “Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan
untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba.” (1 Korintus 10:11).
Kita sekarang berada dalam zaman akhir, berarti isi surat ini juga ditujukan untuk kita, jemaat Tuhan di akhir zaman. Dengan
demikian kita harus menggunakan surat ini sebagai pedoman, untuk memahami atau menafsirkan apa yang tertulis dalam Perjanjian
Lama, yang ditempatkan sebagai dan “peringatan” bagi kita. Kata “contoh” diterjemahkan
dari bahasa Yunani tupos, too’-pos, yang menurut Strong’s Concordance: • nomor 5179
dijelaskan sebagai berikut: “from 5180; a dia (as struck), i.e. (by implication) a stamp or scar; by analogy,
a shape, i.e. a statue, (figuratively) style or resemblancel specifically, a sampler (“type”), i.e. a model
(for imitation) or instance (for warning); --en-(ex-)ample, fashion, figure, form, manner, pattern, print.” •
nomor 5180 dijelaskan sebagai berikut: tuptw tupto toop’-to ; a primary verb (in a strengthened form); to “thump”,
i.e. cudgel or pummel (properly, with a stick or bastinado), but in any case by repeated blows; thus differing from 3817 and
3960, which denote a [usually single] blow with the hand or any instrument, or 4141 with the fist [or a hammer], or 4474 with
the palm; as well as from 5177, an accidental collision); by implication, to punish; figuratively, to offend (the conscience):
--beat, smite, strike, wound.
Kalau diterjemahkan, kita akan menemukan bahwa penjelasan atas kata tersebut memang
benar. Sebab seringkali Alkitab menyampaikan kebenaran dalam bentuk contoh, yang disampaikan dengan cara: bayangan atau gambar-bayang,
analogi (perbandingan), kiasan atau symbol, dan perumpamaan. Dengan memahami hal ini, maka kita akan dapat memahami apa yang
tertulis dalam Perjanjian Lama, yang merupakan “contoh” atau “types”. Contoh yang dapat
dimengerti sebagai gambar-bayang atau analogi, kiasan atau bentuk yang lain, dapat berupa: • pribadi manusia tertentu
(Adam, Hawa, Abraham, Ishak, dan sebagainya); • peristiwa (penciptaan, banjir, pernikahan dsb); • riwayat
hidup seseorang (perjalanan Abraham, Yusuf); • benda-benda tertentu (emas, perak, ular, kayu dsb); • pola
(penciptaan, Tabernakel)
Semua itu, pada zaman Perjanjian Lama masih belum dibukakan kepada bangsa Israel. Bangsa
Israel tidak memahami, mengapa mereka harus melakukan semua imamat yang demikian rumit dalam ibadah mereka selama bertahun-tahun.
Inilah kemurahan Tuhan bagi kita di akhir zaman, suatu terang baru diberikan, agar kita dapat memahami
rencana Allah secara lengkap, yang telah digelar mulai kitab-kitab Perjanjian Lama, sampai Perjanjian Baru.
I.1.2
Keuntungan hidup di masa kini “Sebab, sekiranya perjanjian yang pertama itu tidak bercacat, tidak akan
dicari lagi tempat untuk yang kedua. Sebab Ia menegor mereka ketika Ia berkata: “Sesungguhnya, akan datang waktunya,”
demikian firman Tuhan, “Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan dengan kaum Yehuda, bukan seperti
perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka, pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka
keluar dari tanah Mesir.” (Ibrani 8:7-9a)
Untuk memahami perbedaan antara sesuatu yang asli dan salinannya,
kita dapat membandingkan sebuah foto seekor ikan paus dengan ikan paus yang sebenarnya. Kita akan melihat sesuatu perbedaan
yang sangat menyolok, baik dari besarnya maupun beratnya. Selembar kertas foto tidak akan pernah sama dengan ikan paus yang
besarnya hampir sama dengan sebuah perahu dan beratnya kurang dari 40 ton. Gambar dua dimensi tidak akan mampu untuk memberi
gambaran yang seutuhnya tentang seekor ikan paus raksasa.
Kitab Ibrani menggunakan kata “gambaran
dan bayangan” (Ibrani 8:5), yang dapat diartikan “salinan” untuk menjelaskan ritual dan hal-hal yang
terdapat dalam Perjanjian Lama, yaitu mengenai: Tabernakel (kemah pertemuan), Paskah, upacara korban dan tugas-tugas keimanan.
Surat kepada Jemaat Korintus mengingatkan akan contoh yang diberikan Tuhan melalui kehidupan bangsa Israel
di padang gurun [1 Korintus 10:1-11], sehingga kita yang hidup di zaman akhir ini tidak sampai jatuh dalam penyembahan
berhala.
Tidak satupun upacara keagamaan yang seberapa besarpun, yang dapat mengekspresikan dengan lengkap tentang
pengalaman dengan Allah, seperti sebuah foto seekor ikan paus dan foro sebuah gunung tidak akan pernah mampu mengekspresikan
benda-benda yang sebenarnya tersebut dengan lengkap.
Menurut kitab Ibrani, upacara keagamaan Perjanjian
Lama adalah suatu gambar bayang, sedangkan Kristus adalah yang penggenapannya. Penulis kitab Ibrani menarik suatu pelajaran
dari tradisi Yahudi, yang terbentuk oleh ketaatan terhadap perintah Allah selama bertahun-tahun, meliputi upacara korban,
hukum-hukum, tabernakel, imamat, hari pendamaian, dan sebagainya – dan menjelaskan bagaimana Kristus membukakan sekali
dan lengkap, makna dari seluruh gambar bayang yang terselubung tersebut. Allah telah menggenapi semua yang telah dijanjikanNya
dalam Perjanjian Lama, dengan menunjukkan suatu penggenapan yang sempurna, sehingga kita yang mendapat kemurahan tahu, bagaimana
semua itu digenapi dengan lengkap dan sempurna, yaitu dalam Tuhan Yesus Kristus.
I.1.3. Manakah yang lebih baik? Kitab
Ibrani menekankan keuntungan-keuntungan dari hidup di masa kini, dari pada hidup dalam zaman Perjanjian Lama (“Perjanjian
yang pertama”). Karena pengorbanan Kristus, maka korban binatang itu tidak diperlukan lagi [Ibrani 10:10-12],
dan hukum Allah sekarang dituliskan dalam akal-budi (pikiran) kita dan dalam hati kita, bukan dalam bentuk suatu hukum yang
tertulis [Ibrani 8:10]. Tuhan Yesus berseru dari atas kayu salib, “Sudah genap (selesai).” [Yohanes
19:30], makna dari perkataan Tuhan Yesus inilah yang dijelaskan oleh penulis kitab Ibrani, bahwa dalam Yesuslah, segala
sesuatu yang dijanjikan Allah telah digenapi, atau diselesaikan.
Meskipun kehidupan dan pola ibadah bangsa Israel berfungsi
sebagai contoh atau gambar bayang bagi kita, namun tetap saja kehidupan Israel dan Perjanjian Lama mempunyai makna yang besar
bagi kita yang tidak pernah mengalami sendiri bagaimana kehidupan seperti yang dijalani oleh bangsa Israel waktu itu. Tetapi,
sekarang timbul pertanyaan: “Siapa yang akan lebih menyukai bayangan daripada yang aslinya?”.
I.2.
Perjalanan Bangsa Israel
Demikian besar bagian-bagian Alkitab yang membahas kehidupan bangsa Israel. Tentu
Tuhan tidak bermaksud hanya menyajikan catatan sejarah suatu bangsa di bumi. Bila kita mengimani bahwa Alkitab dituliskan
untuk menyampaikan rencana kekal-Nya, kita harus mempelajari dengan sudut pandang yang benar, sehingga kita mengetahui apa
maksud Allah yang sebenarnya.
Maksud perjalanan yang membawa umat Israel dari Mesir ke tujuan akhir mereka, Gunung
Sion, adalah sebagai contoh dan peringatan bagi kita yang hidup di zaman akhir ini [1 Korintus 10:1-11]. Karena itu,
kita boleh dengan yakin menyatakan bahwa perjalanan bersejarah yang berlangsung kurang lebih 480 tahun sebelum pembangunan
Bait Salomo, adalah sebuah gambar bayang yang menggambarkan perjalanan rohani gereja Tuhan baik secara individu maupun Jemaat
secara utuh (tubuh Kristus), sejak dari pertobatannya sampai ia mencapai “kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan
yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.” (Efesus 4:11-16]
Sebelum seseorang sampai di Gunung Sion rohani,
pertama-tama ia harus melewati pengalaman Paskah (menerima korban Kristus), kemudian menyeberangi Laut Teberau (babtisan
air). Dia terus maju sampai ke Gunung Sinai, yang melambangkan babtisan Roh Kudus. Setelah itu, ia perlu dan harus
melangkah maju melewati padang gurun yang luas dan tidak mengenakkan bagi daging, menyeberangi sungai Yordan (mengalami
sunat hati), kemudian memasui tanah perjanjian (Kanaan). Dari sini, ia harus menaklukkan musuh-musuh di dalam dan di luar
tanah Kanaan (masuk ke dalam ruang Suci), yang menggambarkan perjalanan hidup memikul salib setiap hari, mematikan
kedagingan dengan pertolongan Roh Kudus [Roma 8:12-17]. Pada akhirnya, ia akan mendaki Gunung Sion rohani, yang
disamakan masuk ke dalam perhentian Allah yang sejati (masuk ke dalam ruang Maha Kudus). Tentang Sion, Allah berkata,
“Inilah tempat perhentian-Ku selama-lamanya, di sini Aku hendak diam.” (Mazmur 132:13-14, Mazmur 74:2).
Adalah
baik bagi kita untuk tidak saja menghargai dan merenungkan perjalanan umat Israel dari sudut pandang sejarah saja, tetapi
juga dari sudut pandang kekekalan. Dengan memahami perjalanan Israel secara rohani, kita akan mendapatkan pola kehidupan Kristiani
di zaman akhir ini dengan benar. Selanjutnya pimpinan Roh Kudus akan memandu kita berjalan seturut penggenapan pola tersebut.
I.2.1.
Kitab Kejadian Dalam pemandangan Allah, perjalanan ini sudah selesai, bahkan sebelum dunia dijadikan [Ibrani 4:3b].
Tidak lama setelah air bah terjadi, Allah mengadakan sebuah perjanjian dengan Abraham dan keturunannya, bahwa Ia akan memberikan
tanah Kanaan kepada mereka [Kejadian 15:18-21]. Di tanah Kanaanlah terletak Gunung Sion, tempat kediaman-Nya. Tuhan
juga menerangkan dengan sangat jelas kepada Abraham bahwa sebelum keturunannya mewarisi tanah itu, mula-mula mereka akan menjadi
pendatang di sebuah tanah asing (Mesir) dan dibuat menderita selama kurang lebih 400 tahun. Setelah itu, Allah akan menghukum
bangsa Mesir dan membawa mereka (Israel) keluar dengan banyak harta dari Mesir [Kejadian 15:13-14]. Jelas sekali telihat,
bahwa Allah telah mengatur seluruh perjalanan ini jauh sebelum hal itu terjadi. Pertama-tama, Ia mengutus Yusuf ke Mesir,
kemudian kelaparan hebat memaksa Yakub dan keluarganya untuk berpindah ke Mesir. Mereka tinggal di Mesir selama kurang lebih
400 tahun, dan bertumbuh menjadi suatu bangsa yang berjumlah kira-kira 3 juta jiwa. Kemudian ketika Firaun lainnya naik tahta,
dia tidak lagi mengenal dan menghormati Yusuf. Dia menindas dan menjalankan perbudakkan atas keturunan Abraham tersebut.
1.2.2.
Kitab Keluaran sampai Ulangan Pada waktunya Musa pun dilahirkan. Ia merupakan generasi ke tujuh dari Abraham. Paskah
ditetapkan dan keselamatan dari maut ditawarkan melalui darh anak domba (Paskah). Musa melaksanakan penghakiman Allah
atas Firaun dan Mesir. Kemudian Musa membawa Israel keluar dari perbudakan dan mengarahkan mereka ke tanah perjanjian. Tujuan
mereka bukanlah sekedar sampai ke tanah perjanjian, melainkan ke gunung Sion di tanah Kanaan [Keluaran 15:17]. Gunung
Sion adalah tempat kediaman Allah. Panggilan itu tidak pernah hanya sekedar mendapatkan suatu harta pusaka, ibadah atau pelayanan,
melainkan menuju atau mendapatkan pribadi Allah sendiri.
Dari Mesir, mereka menyeberangi Laut Teberau (babtisan
air). Kemudian mereka sampai ke gunung Sinai pada bulan ke tiga (bulan perayaan Pentakosta). Sinai melambangkan babtisan
Roh Kudus. Namun, panggilan tertinggi bukanlah untuk berkemah di sekitar gunung Sinai atau berhenti setelah menerima babtisan
Roh Kudus. Gunung Sinai terletak di padang gurun. Panggilan itu adalah panggilan menuju ke sebuah gunung yang lebih besar,
yaitu gunung Sion. Tempat perhentian itu terletak di seberang sungai Yordan di dalam tanah perjanjian. Dalam kurun waktu inilah
Allah memberikan suatu pola ibadah melalui Musa kepada bangsa Israel, yang saat ini kita menyebutnya pengajaran Tabernakel.
Kareka kegagalan mereka dalam melewati ujian-ujian di padang gurun, Allah menyatakan di Kadesy Barnea bahwa mereka tidak akan
masuk ke dalam perhentian-Nya. Akibatnya, Israel berputar-putar di padang gurun tanpa tujuan selama kurang lebih 40 tahun
sampai generasi yang penuh pemberontakan itu habis, kecuali Yosua dan Kaleb. [Bilangan 14:26-35; 26:64,65]
I.2.3.
Kitab Yosua Yosua memimpin sebuah generasi Israel yang baru menyeberangi sungai Yordan ke dalam tanah perjanjian. Yordan
melambangkan “mati terhadap dosa”. Hati mereka lain (berubah) setelah menyeberangi Yordan. Israel tidak
lagi ingin kembali ke Mesir. Mereka mengalami penyunatan di Gilgal, dan kedagingan mereka dihadapkan kepada Pedang (Firman
Allah). Yosua terus memimpin mereka melawan 31 raja-raja yang berkuasa di tanah Kanaan, yang melambangkan “tuan-tuan”
yang memerintah di dalam kehidupan kita. Setiap bagian dari keakuan harus dikerat, seiris demi seiris, oleh Firman Allah.
I.2.4.
Kitab Hakim-Hakim Yosua menyatakan, “Berapa lama lagi kamu bermalas-malas, sehingga tidak menduduki negeri yang
telah diberikan kepadamu oleh Tuhan…Masih banyak yang belum diduduki.” Yosua tidak pernah membawa mereka ke dalam
perhentian yang penuh [Ibrani 4:8-9]. Setelah Yosua meninggal, kitab Hakim-Hakim memperlihatkan kepada kita betapa Israel
berkompromi dan tinggal dengan musuh-musuh yang tinggal di Kanaan, yang menggambarkan kehidupan yang tidak murni, hidup
rohani yang mendua hati. Di satu sisi mengikuti Tuhan, tetapi juga membiarkan
musuh-musuh rohani menguasai sisi hidup kerohaniannya yang lain. Mereka mengabaikan dan menghindari wilayah-wilayah
yang seharusnya dibereskan dengan pedang. Sion masih dikuasai oleh bangsa Yebus, seperti halnya wilayah yang lain.
I.2.5.
Kitab 1 dan 2 Samuel Beberapa generasi kemudian, Daud, seorang yang berkenan di hati Allah menjadi raja. Di usia 37
tahun, dia menawan kubu pertahanan Sion dan meletakkan Tabut Perjanjian disana. Sion terkenal sebagai gunung yang kudus. Oh
betapa kemuliaan, kuasa, penyembahan, dan keintiman dengan Tuhan ada di Sion. Akhirnya, kurang lebih 443 tahun setelah Israel
memulai perjalanan mereka keluar dari Mesir, mereka mencapai Sion.
I.2.5. Kitab 1 dan 2 Raja-raja, 1 dan 2 Tawarikh Putra
Daud, yaitu Salomo membangun Bait Allah dan membawa Tabut Perjanjian naik (“bring up the ark”) dari Sion
dan menempatkannya di sana. Kuasa dan kemuliaan begitu besarnya, sehingga para imam-imam tidak bsa berdiri [1 Raja-raja
8:1-11]. Bangsa-bangsa datang untuk mendengar dan melihat kemuliaan dan hikmat Allah yang ada di Bait Allah ini. Karena
itu, sasaran setiap orang percaya adalah menyelesaikan perjalanan mereka dari Mesir (gambaran duniawi) sampai ke Sion
(gambaran sorgawi), yaitu untuk sampai kepada kemuliaan, dan membawa kemuliaan Tuhan kepada bangsa-bangsa. [Ibrani
12:22].
|
 |
|
Please get in touch to offer comments and join our mailing list.
|
|
 |
|
|
|
DAMAI SEJAHTERA YG MENERANGI HATI DAN PIKIRAN
|
|
|
 |