Make your own free website on Tripod.com

SYAMSUL_TOBING

Halaman Utama
Fhoto Keluarga
Firman Allah
Contact Us
Calendar of Events
Members Page
Newsletter
Links
New Page Title
1_362289732m.jpg

Welcome to our web site!

On this home page we'll introduce our organization and highlight important areas on our site. Here is an example of a style we may use.

PENGAJARAN TABERNAKEL

I.Pengantar Pengajaran Tabernakel

I.1. Terang Baru dalam memahami Perjanjian Lama
I.1.1 Terang Baru

Banyak kali orang percaya sekarang ini menganggap kitab-kitab Perjanjian Lama dipandang sebagai kitab sejarah, meskipun ada sebagian isinya yang dapat ditafsirkan sebagai nubuatan akan hal-hal yang akan terjadi. Seringkali orang percaya bertanya-tanya, apa maksud Allah mengilhami para penulis untuk menuliskan peristiwa perjalanan hidup manusia sejak Adam, Nuh, Abraham, Ishak, Yakub, sampai akhirnya menjadi suatu bangsa, yaitu Israel. Yang paling menyedihkan adalah bahkan ada kecenderungan untuk meragukan bahwa isi Alkitab adalah Firman Tuhan. Khususnya kitab Kejadian, tentang masalah penciptaan manusia. Mereka yang tidak percaya, malah lebih mempercayai teori manusia tentang evolusi manusia dari pada Firman Tuhan.

Memahami isi kitab-kitab Perjanjian Lama tidak akan mencapai sasaran, bila kita menafsirkannya secara harfiah semata atau menurut kehendak kita sendiri (2 Petrus 1:20). Kita harus mengakui lebih dulu, bahwa Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru merupakan satu kesatuan yang berkesinambungan. Untuk mengerti bagian yang satu harus menggunakan bagian yang lain untuk menjelaskannya. Membandingkan yang rohani dengan yang rohani, membandingkan ayat dengan ayat. Baik Perjanjian Lama diterangi oleh Perjanjian Baru, maupun sebaliknya.

Kita dapat belajar dari surat-surat rasul Paulus, bahwa “Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba.” (1 Korintus 10:11). Kita sekarang berada dalam zaman akhir, berarti isi surat ini juga ditujukan untuk kita, jemaat Tuhan di akhir zaman. Dengan demikian kita harus menggunakan surat ini sebagai pedoman, untuk memahami atau menafsirkan apa yang tertulis dalam Perjanjian Lama, yang ditempatkan sebagai dan “peringatan” bagi kita.
Kata “contoh” diterjemahkan dari bahasa Yunani tupos, too’-pos, yang menurut Strong’s Concordance:
• nomor 5179 dijelaskan sebagai berikut: “from 5180; a dia (as struck), i.e. (by implication) a stamp or scar; by analogy, a shape, i.e. a statue, (figuratively) style or resemblancel specifically, a sampler (“type”), i.e. a model (for imitation) or instance (for warning); --en-(ex-)ample, fashion, figure, form, manner, pattern, print.”
• nomor 5180 dijelaskan sebagai berikut: tuptw tupto toop’-to ; a primary verb (in a strengthened form); to “thump”, i.e. cudgel or pummel (properly, with a stick or bastinado), but in any case by repeated blows; thus differing from 3817 and 3960, which denote a [usually single] blow with the hand or any instrument, or 4141 with the fist [or a hammer], or 4474 with the palm; as well as from 5177, an accidental collision); by implication, to punish; figuratively, to offend (the conscience): --beat, smite, strike, wound.


Kalau diterjemahkan, kita akan menemukan bahwa penjelasan atas kata tersebut memang benar. Sebab seringkali Alkitab menyampaikan kebenaran dalam bentuk contoh, yang disampaikan dengan cara: bayangan atau gambar-bayang, analogi (perbandingan), kiasan atau symbol, dan perumpamaan. Dengan memahami hal ini, maka kita akan dapat memahami apa yang tertulis dalam Perjanjian Lama, yang merupakan “contoh” atau “types”. Contoh yang dapat dimengerti sebagai gambar-bayang atau analogi, kiasan atau bentuk yang lain, dapat berupa:
• pribadi manusia tertentu (Adam, Hawa, Abraham, Ishak, dan sebagainya);
• peristiwa (penciptaan, banjir, pernikahan dsb);
• riwayat hidup seseorang (perjalanan Abraham, Yusuf);
• benda-benda tertentu (emas, perak, ular, kayu dsb);
• pola (penciptaan, Tabernakel)

Semua itu, pada zaman Perjanjian Lama masih belum dibukakan kepada bangsa Israel. Bangsa Israel tidak memahami, mengapa mereka harus melakukan semua imamat yang demikian rumit dalam ibadah mereka selama bertahun-tahun. Inilah kemurahan Tuhan bagi kita di akhir zaman, suatu terang baru diberikan, agar kita dapat memahami rencana Allah secara lengkap, yang telah digelar mulai kitab-kitab Perjanjian Lama, sampai Perjanjian Baru.

I.1.2 Keuntungan hidup di masa kini
“Sebab, sekiranya perjanjian yang pertama itu tidak bercacat, tidak akan dicari lagi tempat untuk yang kedua. Sebab Ia menegor mereka ketika Ia berkata: “Sesungguhnya, akan datang waktunya,” demikian firman Tuhan, “Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan dengan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka, pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir.” (Ibrani 8:7-9a)

Untuk memahami perbedaan antara sesuatu yang asli dan salinannya, kita dapat membandingkan sebuah foto seekor ikan paus dengan ikan paus yang sebenarnya. Kita akan melihat sesuatu perbedaan yang sangat menyolok, baik dari besarnya maupun beratnya. Selembar kertas foto tidak akan pernah sama dengan ikan paus yang besarnya hampir sama dengan sebuah perahu dan beratnya kurang dari 40 ton. Gambar dua dimensi tidak akan mampu untuk memberi gambaran yang seutuhnya tentang seekor ikan paus raksasa.

Kitab Ibrani menggunakan kata “gambaran dan bayangan” (Ibrani 8:5), yang dapat diartikan “salinan” untuk menjelaskan ritual dan hal-hal yang terdapat dalam Perjanjian Lama, yaitu mengenai: Tabernakel (kemah pertemuan), Paskah, upacara korban dan tugas-tugas keimanan. Surat kepada Jemaat Korintus mengingatkan akan contoh yang diberikan Tuhan melalui kehidupan bangsa Israel di padang gurun [1 Korintus 10:1-11], sehingga kita yang hidup di zaman akhir ini tidak sampai jatuh dalam penyembahan berhala.

Tidak satupun upacara keagamaan yang seberapa besarpun, yang dapat mengekspresikan dengan lengkap tentang pengalaman dengan Allah, seperti sebuah foto seekor ikan paus dan foro sebuah gunung tidak akan pernah mampu mengekspresikan benda-benda yang sebenarnya tersebut dengan lengkap.

Menurut kitab Ibrani, upacara keagamaan Perjanjian Lama adalah suatu gambar bayang, sedangkan Kristus adalah yang penggenapannya. Penulis kitab Ibrani menarik suatu pelajaran dari tradisi Yahudi, yang terbentuk oleh ketaatan terhadap perintah Allah selama bertahun-tahun, meliputi upacara korban, hukum-hukum, tabernakel, imamat, hari pendamaian, dan sebagainya – dan menjelaskan bagaimana Kristus membukakan sekali dan lengkap, makna dari seluruh gambar bayang yang terselubung tersebut. Allah telah menggenapi semua yang telah dijanjikanNya dalam Perjanjian Lama, dengan menunjukkan suatu penggenapan yang sempurna, sehingga kita yang mendapat kemurahan tahu, bagaimana semua itu digenapi dengan lengkap dan sempurna, yaitu dalam Tuhan Yesus Kristus.

I.1.3. Manakah yang lebih baik?
Kitab Ibrani menekankan keuntungan-keuntungan dari hidup di masa kini, dari pada hidup dalam zaman Perjanjian Lama (“Perjanjian yang pertama”). Karena pengorbanan Kristus, maka korban binatang itu tidak diperlukan lagi [Ibrani 10:10-12], dan hukum Allah sekarang dituliskan dalam akal-budi (pikiran) kita dan dalam hati kita, bukan dalam bentuk suatu hukum yang tertulis [Ibrani 8:10]. Tuhan Yesus berseru dari atas kayu salib, “Sudah genap (selesai).” [Yohanes 19:30], makna dari perkataan Tuhan Yesus inilah yang dijelaskan oleh penulis kitab Ibrani, bahwa dalam Yesuslah, segala sesuatu yang dijanjikan Allah telah digenapi, atau diselesaikan.

Meskipun kehidupan dan pola ibadah bangsa Israel berfungsi sebagai contoh atau gambar bayang bagi kita, namun tetap saja kehidupan Israel dan Perjanjian Lama mempunyai makna yang besar bagi kita yang tidak pernah mengalami sendiri bagaimana kehidupan seperti yang dijalani oleh bangsa Israel waktu itu. Tetapi, sekarang timbul pertanyaan: “Siapa yang akan lebih menyukai bayangan daripada yang aslinya?”.

I.2. Perjalanan Bangsa Israel

Demikian besar bagian-bagian Alkitab yang membahas kehidupan bangsa Israel. Tentu Tuhan tidak bermaksud hanya menyajikan catatan sejarah suatu bangsa di bumi. Bila kita mengimani bahwa Alkitab dituliskan untuk menyampaikan rencana kekal-Nya, kita harus mempelajari dengan sudut pandang yang benar, sehingga kita mengetahui apa maksud Allah yang sebenarnya.

Maksud perjalanan yang membawa umat Israel dari Mesir ke tujuan akhir mereka, Gunung Sion, adalah sebagai contoh dan peringatan bagi kita yang hidup di zaman akhir ini [1 Korintus 10:1-11]. Karena itu, kita boleh dengan yakin menyatakan bahwa perjalanan bersejarah yang berlangsung kurang lebih 480 tahun sebelum pembangunan Bait Salomo, adalah sebuah gambar bayang yang menggambarkan perjalanan rohani gereja Tuhan baik secara individu maupun Jemaat secara utuh (tubuh Kristus), sejak dari pertobatannya sampai ia mencapai “kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.” (Efesus 4:11-16]

Sebelum seseorang sampai di Gunung Sion rohani, pertama-tama ia harus melewati pengalaman Paskah (menerima korban Kristus), kemudian menyeberangi Laut Teberau (babtisan air). Dia terus maju sampai ke Gunung Sinai, yang melambangkan babtisan Roh Kudus. Setelah itu, ia perlu dan harus melangkah maju melewati padang gurun yang luas dan tidak mengenakkan bagi daging, menyeberangi sungai Yordan (mengalami sunat hati), kemudian memasui tanah perjanjian (Kanaan). Dari sini, ia harus menaklukkan musuh-musuh di dalam dan di luar tanah Kanaan (masuk ke dalam ruang Suci), yang menggambarkan perjalanan hidup memikul salib setiap hari, mematikan kedagingan dengan pertolongan Roh Kudus [Roma 8:12-17]. Pada akhirnya, ia akan mendaki Gunung Sion rohani, yang disamakan masuk ke dalam perhentian Allah yang sejati (masuk ke dalam ruang Maha Kudus). Tentang Sion, Allah berkata, “Inilah tempat perhentian-Ku selama-lamanya, di sini Aku hendak diam.” (Mazmur 132:13-14, Mazmur 74:2).

Adalah baik bagi kita untuk tidak saja menghargai dan merenungkan perjalanan umat Israel dari sudut pandang sejarah saja, tetapi juga dari sudut pandang kekekalan. Dengan memahami perjalanan Israel secara rohani, kita akan mendapatkan pola kehidupan Kristiani di zaman akhir ini dengan benar. Selanjutnya pimpinan Roh Kudus akan memandu kita berjalan seturut penggenapan pola tersebut.

I.2.1. Kitab Kejadian
Dalam pemandangan Allah, perjalanan ini sudah selesai, bahkan sebelum dunia dijadikan [Ibrani 4:3b]. Tidak lama setelah air bah terjadi, Allah mengadakan sebuah perjanjian dengan Abraham dan keturunannya, bahwa Ia akan memberikan tanah Kanaan kepada mereka [Kejadian 15:18-21]. Di tanah Kanaanlah terletak Gunung Sion, tempat kediaman-Nya. Tuhan juga menerangkan dengan sangat jelas kepada Abraham bahwa sebelum keturunannya mewarisi tanah itu, mula-mula mereka akan menjadi pendatang di sebuah tanah asing (Mesir) dan dibuat menderita selama kurang lebih 400 tahun. Setelah itu, Allah akan menghukum bangsa Mesir dan membawa mereka (Israel) keluar dengan banyak harta dari Mesir [Kejadian 15:13-14]. Jelas sekali telihat, bahwa Allah telah mengatur seluruh perjalanan ini jauh sebelum hal itu terjadi. Pertama-tama, Ia mengutus Yusuf ke Mesir, kemudian kelaparan hebat memaksa Yakub dan keluarganya untuk berpindah ke Mesir. Mereka tinggal di Mesir selama kurang lebih 400 tahun, dan bertumbuh menjadi suatu bangsa yang berjumlah kira-kira 3 juta jiwa. Kemudian ketika Firaun lainnya naik tahta, dia tidak lagi mengenal dan menghormati Yusuf. Dia menindas dan menjalankan perbudakkan atas keturunan Abraham tersebut.

1.2.2. Kitab Keluaran sampai Ulangan
Pada waktunya Musa pun dilahirkan. Ia merupakan generasi ke tujuh dari Abraham. Paskah ditetapkan dan keselamatan dari maut ditawarkan melalui darh anak domba (Paskah). Musa melaksanakan penghakiman Allah atas Firaun dan Mesir. Kemudian Musa membawa Israel keluar dari perbudakan dan mengarahkan mereka ke tanah perjanjian. Tujuan mereka bukanlah sekedar sampai ke tanah perjanjian, melainkan ke gunung Sion di tanah Kanaan [Keluaran 15:17]. Gunung Sion adalah tempat kediaman Allah. Panggilan itu tidak pernah hanya sekedar mendapatkan suatu harta pusaka, ibadah atau pelayanan, melainkan menuju atau mendapatkan pribadi Allah sendiri.

Dari Mesir, mereka menyeberangi Laut Teberau (babtisan air). Kemudian mereka sampai ke gunung Sinai pada bulan ke tiga (bulan perayaan Pentakosta). Sinai melambangkan babtisan Roh Kudus. Namun, panggilan tertinggi bukanlah untuk berkemah di sekitar gunung Sinai atau berhenti setelah menerima babtisan Roh Kudus. Gunung Sinai terletak di padang gurun. Panggilan itu adalah panggilan menuju ke sebuah gunung yang lebih besar, yaitu gunung Sion. Tempat perhentian itu terletak di seberang sungai Yordan di dalam tanah perjanjian. Dalam kurun waktu inilah Allah memberikan suatu pola ibadah melalui Musa kepada bangsa Israel, yang saat ini kita menyebutnya pengajaran Tabernakel. Kareka kegagalan mereka dalam melewati ujian-ujian di padang gurun, Allah menyatakan di Kadesy Barnea bahwa mereka tidak akan masuk ke dalam perhentian-Nya. Akibatnya, Israel berputar-putar di padang gurun tanpa tujuan selama kurang lebih 40 tahun sampai generasi yang penuh pemberontakan itu habis, kecuali Yosua dan Kaleb. [Bilangan 14:26-35; 26:64,65]

I.2.3. Kitab Yosua
Yosua memimpin sebuah generasi Israel yang baru menyeberangi sungai Yordan ke dalam tanah perjanjian. Yordan melambangkan “mati terhadap dosa”. Hati mereka lain (berubah) setelah menyeberangi Yordan. Israel tidak lagi ingin kembali ke Mesir. Mereka mengalami penyunatan di Gilgal, dan kedagingan mereka dihadapkan kepada Pedang (Firman Allah). Yosua terus memimpin mereka melawan 31 raja-raja yang berkuasa di tanah Kanaan, yang melambangkan “tuan-tuan” yang memerintah di dalam kehidupan kita. Setiap bagian dari keakuan harus dikerat, seiris demi seiris, oleh Firman Allah.

I.2.4. Kitab Hakim-Hakim
Yosua menyatakan, “Berapa lama lagi kamu bermalas-malas, sehingga tidak menduduki negeri yang telah diberikan kepadamu oleh Tuhan…Masih banyak yang belum diduduki.” Yosua tidak pernah membawa mereka ke dalam perhentian yang penuh [Ibrani 4:8-9]. Setelah Yosua meninggal, kitab Hakim-Hakim memperlihatkan kepada kita betapa Israel berkompromi dan tinggal dengan musuh-musuh yang tinggal di Kanaan, yang menggambarkan kehidupan yang tidak murni, hidup rohani yang mendua hati. Di satu sisi mengikuti Tuhan, tetapi juga membiarkan musuh-musuh rohani menguasai sisi hidup kerohaniannya yang lain. Mereka mengabaikan dan menghindari wilayah-wilayah yang seharusnya dibereskan dengan pedang. Sion masih dikuasai oleh bangsa Yebus, seperti halnya wilayah yang lain.

I.2.5. Kitab 1 dan 2 Samuel
Beberapa generasi kemudian, Daud, seorang yang berkenan di hati Allah menjadi raja. Di usia 37 tahun, dia menawan kubu pertahanan Sion dan meletakkan Tabut Perjanjian disana. Sion terkenal sebagai gunung yang kudus. Oh betapa kemuliaan, kuasa, penyembahan, dan keintiman dengan Tuhan ada di Sion. Akhirnya, kurang lebih 443 tahun setelah Israel memulai perjalanan mereka keluar dari Mesir, mereka mencapai Sion.

I.2.5. Kitab 1 dan 2 Raja-raja, 1 dan 2 Tawarikh
Putra Daud, yaitu Salomo membangun Bait Allah dan membawa Tabut Perjanjian naik (“bring up the ark”) dari Sion dan menempatkannya di sana. Kuasa dan kemuliaan begitu besarnya, sehingga para imam-imam tidak bsa berdiri [1 Raja-raja 8:1-11]. Bangsa-bangsa datang untuk mendengar dan melihat kemuliaan dan hikmat Allah yang ada di Bait Allah ini. Karena itu, sasaran setiap orang percaya adalah menyelesaikan perjalanan mereka dari Mesir (gambaran duniawi) sampai ke Sion (gambaran sorgawi), yaitu untuk sampai kepada kemuliaan, dan membawa kemuliaan Tuhan kepada bangsa-bangsa. [Ibrani 12:22].

Please get in touch to offer comments and join our mailing list.

DAMAI SEJAHTERA YG MENERANGI HATI DAN PIKIRAN